RSS

Instansi Oh Instansi

Direktorat Jenderal Pajak, instansi yang tertulis untukku saat pemberkasan online. Seharusnya aku senang, instansi tersebut sesuai dengan life plan yang aku tulis saat mata pelajaran KSPK dahulu. Tetapi, entah kenapa beberapa bulan terakhir, aku malah ingin instansi lain. Alasannya cukup klise sebenarnya, tapi hal itulah yang dipikirkan oleh seorang desy pada saat ini. Entahlah.

Lantas aku berpikir, cukup banyak nikmat yang telah Allah limpahkan untukku. Lalu, kenapa harus mengeluh ketika banyak sekali hal yang harus disyukuri? Bukankah jika kita bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat kepada kita? Astaghfirullahhal'adzim, maafkan hamba-Mu yang pemikirannya tertutup oleh hal-hal yang klise ini, Ya Allah. Sesungguhnya Engkaulah Dzat yang Maha Mengetahui sedangkan aku tiada mengetahui.

"Ya Tuhanku, anugerahilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-Mu yang saleh."

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

It WIll Worth The Wait

"Please, do not ever settle for less. Keep waiting. Keep learning about yourself, keep trying and fighting for the heart within your chest. Keep growing and nourishing your wants, keep discovering your needs. When the time is right, you are going to fall in love with someone who will appreciate everything you stand for, who will compliment you in ways you never imagined. When the time is right, the love you have always been worthy of will flower within your life, and you will finally, finally, understand why you had to wait so long." ---thoughtcatalog

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bersyukur

Bahagia itu sederhana. Bersyukur. Sesuatu yang beberapa hari ini aku lupa caranya. Aku lupa. Ingin ini, ingin itu. Ingin seperti ini, ingin seperti itu...sampai pikiranku tengah malam tadi menarikku kembali.

***

Beberapa hari ini pikiranku terlalu disibukkan dengan hal-hal duniawi. Aku sibuk ke sana ke mari mencari sesuatu hanya untuk dianggap pantas. Aku sibuk memperbaiki diri di hadapan manusia. Aku lupa bahwa manusia tidak akan pernah merasa puas. Aku lupa bahwa penilaian Allah terhadapku jauuuuh lebih penting daripada penilaian manusia itu sendiri. Aku baru tau bagaimana rasanya merasa takut jika kehilangan Allah di dalam hati. Aku takut Allah membiarkanku berjalan menjauh dari-Nya dan tidak menarikku kembali... "Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu". Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Good Bye, You

Bintaro, 24 September 2016.

Malam ini aku blog-walking ke blognya Kak Maulida Saadillah (aku tau tentang kisahnya dari adik kelas saat aku curhat tentang seseorang padanya haha). Blognya saat menginspirasi sekali! Mulai dari prestasinya hingga kepatuhannya terhadap agama patut diacungi jempol! Kamu bisa baca blog-nya di sini :)

***

Tentang Kak Ida yang tidak pernah pacaran dan pada akhirnya dia dipersatukan dalam hubungan yang halal rasanya sesuatu sekali :") Semoga aku bisa mengikuti jejaknya. Aamiin.

***

Jadi kepikiran dengan apa yang aku lakukan beberapa hari lalu. For the first time in my life, I did something that took all my courage related to lovey-dovey-thing. Entahlah. Aku hanya berharap semoga selama ini aku tidak mengagumi orang yang salah. Dulu aku bahkan sempat berpikir "tidak masalah jika aku tidak dipertemukan dengan yang lebih baik, asal orangnya adalah dia". Duh. How can you utter such that word, Des? Did you lose your mind? Ya Allah, do not attach my heart to what's not written to be mine. :")

***

Mulai saat ini, aku harus mengikhlaskan apa yang mungkin memang bukan ditakdirkan untukku. Aku yakin rencana Allah jauh lebih baik. Aku yakin di masa depan nanti, aku akan melihat ke belakang dan paham betapa indahnya jalan yang telah Allah gariskan untukku. Aku percaya itu. "If something is destined for you, never in million years it will be for somebody else."

Sorry for the random post.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sajak Putri dan Pangeran

Sajak Putri dan Pangeran

Aku akan jatuh cinta, tentu saja
Seorang putri selalu jatuh cinta
Tapi tidak sekarang atau hanya untuk urusan murah
Aku akan jatuh cinta, kepada seorang pangeran
Yang datang dengan gagah berani
Mengambil tanggung jawab dalam hubungan yang diberkahi
Menjadi imam sampai mati

Aku akan jatuh cinta, tentu saja
Seorang pangeran selalu jatuh cinta
Tapi tidak sekarang atau hanya untuk hubungan main-main
Aku akan jatuh cinta, kepada seorang putri
Yang diambil dari tempat terhormatnya, dengan cara terbaiknya
Mengikatkan diri pada hubungan yang dirahmati
Menjadi pasangan bidadari hingga hari penghabisan nanti

Tere Liye
(dalam kumpulan sajak Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta)




Ya Allah, aku tidak ingin patah hati. Jatuh cintakan aku pada calon jodohku saja. :")
ps: ini bukan terjemahan gambar di atas

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Something Strange

And now this is happening (again). I just watched a movie and.....as always, I can't get rid of every single scene out of my mind. Why is it so hard for me to do that? Are you people sometimes feeling the same like I do?

That's something strange about reading books or watching movies. Once you enter that world, you'll be drawn and dissolved into the story and then...trapped for a second, for a minute, for an hour, for a month, for a year, or even forever. I somehow hate about that thing.

Don't you think it hurts? Being addicted to something and keep remembering all-the-things-you-earnestly-want-to-forget in your mind? Duh.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gaya Pemberitaan Detik.com, Tempo.co, dan Tribunnews.com

Di era yang serba digital saat ini, media cetak bukanlah satu-satunya cara untuk memperoleh berita. Sekarang sudah ada bahkan banyak situs informasi digital yang menyediakan kita alternatif lain untuk memperoleh berita dimanapun dan kapanpun, beberapa contohnya adalah tempo.co, detik.com, tribunnews.com, dan lain sebagainya. Semua situs tersebut menyajikan berita-berita nusantara maupun mancanegara dengan gaya pemberitaan mereka masing-masing. Di sini saya akan mencoba mengulas gaya pemberitaan detik.com, tempo.co, dan tribunnews.com :) 

Detik.com-Detik.com merupakan salah satu situs informasi digital yang paling populer di kalangan pengguna internet. Terbukti dari banyaknya followers situs berita satu ini di twitter (@detikcom). Dari gaya pemberitaannya, detik.com sepertinya lebih merakyat karena pemilihan bahasa yang ringan dan mudah dicerna oleh masyarakat biasa, serta isi berita yang singkat, sering terdiri atas 4-5 paragraf saja, dan to the point. Sesuai dengan namanya, detik.com, publikasi beritanya cukup cepat dan up date dalam hitungan detik.


Jurnalisme harus menyediakan forum bagi kritik maupun komentar dari publik. Salah satu dari Sembilan Elemen Jurnalisme menurut Bill Kovach dan Tom Resentiel ini juga sudah diterapkan dalam situs mereka.Terdapat kolom komentar pada bagian bawah akhir pemberitaan yang memungkinkan siapa saja dapat berkomentar bebas tanpa harus log in terlebih dahulu. Hal ini memungkinkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk memberi komentar semau mereka tanpa melalui proses penyaringan dari pihak detik.com.


Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran yang merupakan salah satu dari Sembilan Elemen Jurnalisme juga terlihat pada salah satu berita yang berjudul Tolak Beri Keterangan, Akil Tetap Divonis Majelis Elitik Pekan Depan.


Tempo.co-Tempo.co yang dulunya bernama Tempointeraktif merupakan pionir berita internet di Indonesia. Dari gaya pemberitaannya, tempo.co cenderung menggunakan kata-kata yang lebih berat dan berkelas serta isi beritanya cukup panjang. Tempo.co juga menyediakan kolom komentar pada bagian bawah akhir pemberitaan, bedanya pada tempo.co kita harus log in terlebih dahulu jika hendak memberikan komentar dan itupun harus disaring terlebih dahulu oleh pihak tempo.co. Pemberitaan pada situs tempo.co terkadang menggunakan hyperlink. Jika di dalam suatu berita terdapat berita yang terkait maka akan dihubungkan dengan hyperlink.



Jika dibandingkan dengan detik.com, tempo.co cenderung lebih lama dalam hal publikasi beritanya. Hal ini mungkin dikarenakan disiplin verifikasi tempo.co lebih mendalam, berbeda dengan detik.com yang lebih mengutamakan kecepatan dan keaktualitasan berita.

Salah satu dari Sembilan Elemen Jurnalisme, jurnalis harus melayani sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan, juga terlihat dari salah satu berita di situs tempo.co yang berjudul Tren Korupsi Banten, Temuan BPK: Main Proyek Nyawa”. Di sini terlihat bahwa fungsi pers memang sebagai pengawas para pemegang kekuasaan.

Tribunnews.com-Tribunnews.com merupakan situs berita online yang merupakan suatu divisi koran Kompas yang dikemas dalam bentuk digital. Dari gaya pemberitaannya, tribunnews.com cenderung sama dengan tempo.co yaitu isi beritanya cukup panjang dan terkadang menggunakan hyperlink dalam pemberitaannya, bedanya pada tribunnews.com hyperlink yang digunakan dalam bentuk tag kata, bukan sebuah judul berita.









Jurnalis harus menjaga agar beritanya komprehensif dan proporsional. Salah satu dari Sembilan Elemen Jurnalisme ini juga kita temukan dalam tribunnews.com. Sebagai contohnya adalah salah satu berita yang berjudul "Front Pembela Islam Kecam Pernyataan Nurul Arifin". Di sini, tribunnews.com mengemas berita mereka secara proporsional dengan tidak memihak kepada salah satu pihak.

Jadi, menurut saya detik.com, tempo.co, dan tribunnews.com sudah memenuhi Sembilan Elemen Jurnalisme oleh Bill Kovach dan Tom Rosentiel.


Dari penjelasan saya di atas, menurut saya gaya pemberitaan yang cocok untuk mediacenterstan.com adalah tempo.co yang lebih menekankan kepada disiplin verifikasi dan gaya tampilan webnya seperti tribunnews.com yang lebih simpel dan rapi.

Tugas 2 Magang

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS